Menjual dengan Bahagia
May 1st, 2010 | By admin | Category: Artikel Holystico, Putu PutrayasaSeorang sahabat Holystic bertanya, “Pak, gimana sich bapak bisa menjual dengan enak, mempengaruhi orang kok gampang…, sementara saya kok susah sekali?”. Sejenak saya tercenung, saya amati wajahnya, saya mencoba melihat sorot matanya, membayangkan bagaimana tutur bahasanya. Sedetik, bayangan saya melayang, bagaimana orang yang menerima penawarannya menanggapinya ketika ia mencoba meraih simpati prospeknya.
“Sederhana.., kamu harus menjual dengan bahagia…” sahut saya sembari tersenyum.
“Maksudnya? “ ia menanyakan lebih jauh.
“Menjual dengan bahagia, damai, syukur bukan sebaliknya, menjual dengan khawatir, was-was, dan takut dengan penolakannya… ikhlas apa yang akan terjadi setelah penawaran, membuatmu akan tetap santai, sehingga tidak terkesan hendak memaksakan kehendakmu kepada prospek. Kalo anda ingin penjualan yang terjadi berulang-ulang, meraih hati prospek agar menjadi pelanggan, penjualan harus berjalan halus, menyenangkan dan menggairahkan”, saya mencob memaparkan panjang lebar apa yang saya ketahui dan alami selama ini.
Seperti yang di alami oleh sahabat holystic yang satu ini, seorang penjual sering menjual dengan khawatir, was-was, takut dan seakan penolakan adalah sebuah kiamat baginya. Penjualan menjadi berlangsung tegang, negosiasi berkesan sebuah pertaruhan hidup dan mati bagi si penjual. Itulah yang dialami oleh para penjual amatir, yang berbuah trauma dalam menjual.
Kebahagiaan mengalir dari luar ke dalam, ketika anda menjual dengan bahagia, syukur, ikhlas, tenang, damai dan relaks, maka itu akan mengalir ke sekitar anda, terutama prospek anda. Apa yang anda pikirkan dan rasakan, adalah energi yang anda pancarkan. Dalam buku , “desain ulang hidup anda”, saya menjelaskan 7 hukum alam semesta, diantaranya adalah hukum kekekalan energi dan hukum tarik menarik. Kedua hukum ini bekerja, ketika kita melakukan penjualan, ketika kita memancarkan energi bahagia, syukur, ikhlas, tenang, damai dan relaks, maka energi itulah yang kita pesan dari alam semesta. Energi inilah yang akan berubah bentuk, menjadi kebahagiaan berikutnya yaitu sebuah transaksi penjualan. Energi ini pula yang menarik energi-energi positif yang lebih banyak ini, sebagai respon alam semesta atas pesanan kita sendiri. Jadi, sudahkah anda menjual dengan bahagia? Atau anda masih menjual dengan penuh khawatir dan penuh pamrih tanpa keihkhlasan? Apapun yang anda rasakan sekarang, berlatihlah terus, agar anda bisa menjual dengan perasaan bahagia, sehingga prospek bisa merasakan energi itu dan memantulkannya kembali kepada anda. (Putu Putrayasa)




Terima kasih Pak Putu, dengan pencerahannya
Karena hal ini seperti yang saya alami dalam kegiatan menjual.
Dalam pikiran saya yang terbayang adalah pasti…hasil & pasti…untung.
Benar sekali. Kalau kita bahagia, pembeli pun merasa bahagia….
“menjual dengan bahagia..”
terimakasih pak Putu…
tulisan2 Anda, bnar2 menginspirasi saya.. ^ ^