Pentingnya Karyawan Yang Inovatif Bagi Organisasi

May 6th, 2010 | By admin | Category: Artikel Holystico, Eni Munarsih

Sebenarnya kata inovasi mengandung pengertian yang tidak seragam. Secara klasik, inovasi diartikan sebagai proses membuat perbaikan dengan mengenalkan sesuatu yang baru, suatu perbuatan mengenalkan sesuatu yang baru dengan cara yang baru (The Amirican Heritage Dictionary), memperkenalkan sesuatu yang baru (Merriam-Webster Online), merupakan ide, metode atau pemikiran yang baru (Merriam-Webster Online), kesuksesan memanfaatkan ide yang baru (Departemen of Trade and Industry), perubahan atas penciptaan dimensi yang baru dari kinerja (Peter Drucker), merupakan ide kreatif yang direalisasikan (Frans Johansson).

Menurut Luecke and Katz (2003), inovasi diartikan sebagai pemahaman umum tentang pemikiran baru atau metode baru. Diartikan juga sebagai perwujudan, kombinasi, atau sintesis atas pengetahuan yang orisinil, relevan, nilai baru atas produk, suatu cara, atau pelayanan. Sedangkan menurut Sumiyarto (2006) pada intinya inovasi adalah sesuatu yang baru yang dihasilkan (sebagai output perusahaan) atau sebagai suatu proses adopsi atau pengaplikasian sesuatu yang “baru” oleh sebuah organisasi sedemikian rupa sehingga organisasi ini menjadi lebih kompetitif. Sesuatu yang baru tersebut bisa berupa produk atau jasa baru yang dapat memberikan nilai lebih dibandingkan produk yang lama. Bisa juga sesuatu yang baru itu adalah proses baru menciptakan efisiensi dalam produksi, penyampaian (deliveri) maupun peningkatan pelayanan. Menurutnya, inovasi juga mencakup proses mengadaptasi produk atau mengadaptasi proses yang sudah ada. Mengacu pada kerangka Woodman, inovasi dapat diartikan sebagai proses adaptasi produk, jasa, ide atau proses baik yang sudah ada di dalam organisasi maupun yang dikembangkan dari luar organisasi. Dengan kata lain, perusahaan yang meniru produk perusahaan lain atau mencontoh cara kerja perusahaan lain dapat juga dikatakan melakukan inovasi.

Lalu, hal-hal apa saja yang mendorong terjadinya inovasi?

Inovasi terjadi karena didorong oleh hal-hal sebagai berikut:
a. Perubahan kualitas
b. Penciptaan pasar baru
c. Perluasan lingkup produk
d. Pengurangan biaya tenaga kerja
e. Perubahan proses produksi
f. Pengurangan bahan baku
g. Mengurangi kerusakan lingkungan
h. Penggantian produk atau jasa
i. Pengurangan penggunaan energi
j. Penyesuaian dengan peraturan.

Sedangkan menurut Sumiyarto (2006) inovasi didorong oleh (1) meningkatnya tuntutan pasar, (2) meningkatnya persaingan, (3) perubahan teknologi. Respon organisasi terhadap lingkungan yang penuh ketidakpastian terutama dengan struktur organisasi mengakibatkan organisasi meningkatkan diferensiasi pekerjaan. Sumiyarto juga menyebutkan bahwa inovasi lebih cepat terjadi apabila organisasi membentuk struktur jaringan (network) dengan organisasi lain.

Sumber-Sumber Inovasi
Ada dua hal yang menjadi sumber inovasi, yaitu manufacturer innovation dan end user innovation (Wiktionary). Dalam manufacturer innovation, orang atau bisnis melakukan inovasi dalam rangka untuk menjual inovasi. Sedangkan dalam end user innovation orang atau perusahaan mengembangkan inovasi untuk digunakan sendiri sebab keadaan produk tidak memenuhi kebutuhan.

Dengan demikian, karyawan yang inovatif melakukan inovasi untuk menjual karyanya dan “dirinya” kepada perusahaan, agar dipandang memiliki nilai lebih dari karyawan lain. Kondisi tersebut akan menimbulkan keunggulan bersaing dalam diri karyawan, sehingga jika terjadi downsizing untuk merampingkan organisasi, dia layak untuk dipertahankan.

Lalu bagaimana proses terjadinya inovasi?

Berikut ini gambaran the innovation funnel:

The Innovation Funnel

The Innovation Funnel

Alur di atas menggambarkan bagaimana tujuan organisasi (innovation goals), pelaksanaan/tindakan inovasi (innovation actions), team yang melakukan inovasi (innovation teams) dan hasil dari inovasi (innovation results) saling mempengaruhi satu sama lain untuk menciptakan perubahan dalam organisasi. Tindakan inovasi dimulai dari mulut alur yang lebar, mewakili alternatif ide untuk melakukan perubahan. Tindakan ini bergerak ke arah leher alur dimana akan mengalami berbagai pemangkasan yang dipengaruhi oleh definisi tujuan dan ketersediaan team. Alur terakhir, mengatakan tentang informasi hasil pelaksanaan dari tujuan, tindakan dan tim.

Aspek terpenting dari alur inovasi di atas adalah keterkaitan secara umum antara tindakan dengan tujuan dan tim. Individu dan tim akan fokus pada ide-ide yang mereka yakini setara dengan tujuan yang tidak dapat dipungkiri. Sedangkan tujuan dapat didefinisikan untuk mengakomodasi ide-ide yang bagus. Hal ini merupakan proses pembelajaran yang umumnya terjadi dalam komunitas inovasi.

Konsep Karyawan yang inovatif

Menurut Christopher Brooke Dobni (2006), berikut ini beberapa hal yang membuat organisasi memiliki inovatif, yaitu:

  1. Karyawan dalam organisasi yang inovatif memahami bahwa inovasi merupakan kumpulan dari beberapa orang yang sepanjang jalan mereka berpikir dan melaksanakan, memikirkan organisasi untuk inovatif.
  2. Kultur organisasi mempengaruhi pembentukan karakteristik yang sama, yaitu kreativitas, bersemangat, keinginan untuk sukses, dan pemberdayaan.
  3. Mereka semua tahu bagaimana mereka memenangkan persaingan/permainan, inovasi adalah alat mereka. Banyak dari karyawan memperlihatkan persaingan yang saling mempengaruhi dalam menggapai kesempatan untuk menemukan tambahan nilai yang penting.
  4. Organisasi telah membuat keputusan untuk menggapai tujuan dimasa yang akan datang.

Berdasarkan data tersebut di atas, ternyata karyawan memiliki peran dalam menciptakan organisasi yang inovatif. Oleh karena itu, perlu dikenali ciri-ciri karyawan inovatif yang mampu menciptakan organisasi yang juga inovatif yaitu:

  1. Mereka tidak cemas dalam menghadapi kegagalan
  2. Mereka yakin dapat belajar dari kegagalan
  3. Mereka tahu bahwa inovasi membutuhkan suatu tekad kerja dimana kegagalan merupakan sesuatu yang nyata.
  4. Inovator memiliki disiplin yang tinggi untuk selalu ingin tahu tentang apa yang terjadi
  5. Inovator terbuka dalam setiap usaha untuk melakukan percobaan
  6. Inovator menyadari bahwa pemanfaatan inovasi harus kuat, fleksibel, dan mudah diadaptasikan.
  7. Inovator gembira menemukan sesuatu yang tidak pasti, kemudian mereka berusaha untuk menemukan inovasi baru.
  8. Inovator suka membuat karya yang sangat berguna bagi pemakai.

Dengan demikian, perusahaan perlu untuk memberikan perhatian yang khusus kepada karyawan yang inovatif dan harus selalu berupaya untuk menambah jumlah karyawan yang inovatif. Menurut Eric Von Hippel, inovasi dapat ditingkatkan dengan mengurangi keresmian dari pekerjaan (jangan terlalu formal), melalui pertukaran dan kombinasi atas pengalaman yang profesional dan melalui beberapa jalan yang lain.

Bagaimana Mengadopsi Inovasi
Menurut Nelson (2004) yang dikutip oleh Sumiyarto (2006) ada 4 model yang dapat menjelaskan bagaimana sebuah inovasi penting diadopsi. Keempat model tersebut adalah:

  1. Rational Choice Diffusion
  2. Quasi Rational Choice with possibility of Look in
  3. Fads
  4. Social Construction

Keempat model ini dapat dibedakan berdasarkan 2 faktor utama. Faktor pertama adalah ada tidaknya apa yang dia sebut sebagai dynamic increasing return. Apabila semakin banyak organisasi yang mengadopsi suatu inovasi berakibat pada meningkatnya kinerja organisasi maka faktor dynamic increasing return dianggap ada. Faktor yang kedua adalah kemampuan sebuah inovasi memberikan umpan balik yang jelas dan persuasif bagi pengadopsinya. Sebuah inovasi dikatakan mampu memberikan umpan balik yang jelas dan persuasif apabila ada kriteria kinerja yang jelas dapat dipakai untuk menilai atau apabila ada hasil eksperimen yang meyakinkan. Model yang menjelaskan mengapa organisasi mengadopsi sebuah inovasi tersebut menunjukkan bahwa organisasi mengadopsi sebuah inovasi bukan saja karena adanya alasan rasional saja. Organisasi dapat mengadopsi sebuah inovasi yang sebetulnya tidak terlalu jelas konsekwensi positifnya terhadap kinerja organisasi atau belum terbukti bahwa mengadopsi dapat meningkatkan kinerja organisasi.

Mengingat betapa pentingnya inovasi bagi suatu organisasi, lalu bagaimana berinovasi?
Menurut Fonseca (2002) yang dikutip oleh Sumiyarto (2004), ada 3 pemikiran utama yang mendasari bagaimana inovasi dalam industri dipandang, yaitu:

a. Aliran ekonomi klasik dan neoklasik
Berdasarkan aliran ekonomi, inovasi dipandang sebagai tindakan rasional individu sebagai agen ekonomi yang turut mempengaruhi keseimbangan permintaan dan penawaran pada tingkat makro. Sedangkan aliran neoklasik mempertimbangkan pertumbuhan dinamis dengan memasukkan unsur tindakan individu sebaga variabel yang mempengaruhi efisiensi produksi sehingga dapat dikatakan mempengaruhi posisi dan bentuk kurva produksi. Disini, inovasi merupakan hal penting untuk memperoleh kekuatan monopoli dan memperoleh keuntungan lebih dari normal. Dengan demikian, inovasi dipandang sebagai tindakan rasional dan terencana.

b. Aliran ekonomi evolusioner atau Schumpeter
Menurut aliran ini, inovasi dilihat dengan cara yang sama dengan aliran ekonomi dan neoklasik, namun inovasi tidak lagi dipandang sebagai faktor eksogenus namun dimasukkan ke dalam sistem ekonomi.pertumbuhan ekonomis dijelaskan sebagai proses dinamis yang terjadi akibat adanya inovasi ilmiah, teknologi serta peran yang dimainkan oleh entrepreneur. Individu tidak lagi dipandang sebagai agen yang hitung-hitungan dan rasional tetapi digambarkan menggunakan intuisi dan pandangan kewirausahaan (visionary entrepreneur). Berbeda juga dengan aliran neoklasik, dinamisme pertumbuhan ekonomi bukan bergerak menuju ke keseimbangan namun justru merupakan proses menciptakan ketidakseimbangan. Inovasi yang terjadi menghasilkan ketidakseimbangan yang mendorong individu dan organisasi terus beradaptasi untuk bisa bertahan hidup.

c. Teori proses respon kompleks
Menurut Stacey (2001), inovasi terjadi setelah adanya interaksi langsung antara satu orang dengan orang lain dalam bentuk percakapan (conversation). Interaksi antar orang ini dapat dikatakan sebagai suatu proses belajar, menginterpretasi kenyataan, fakta dan tanda-tanda dilapangan, bukan dengan kerangka asumsi dan keyakinan yang selama ini sudah ada.

Eni Munarsih, S.Pd., M.Sc.

Tags: ,

Leave Comment