Start at Now or Never!
Jun 17th, 2010 | By admin | Category: C. IsmulCokro, Menjadi PenulisBeberapa hari lalu, seorang teman mengutarakan sesuatu kepadaku “Mas, cobalah untuk membuat tulisan yang mengajak seseorang untuk menulis.” Pernyataan teman ini menggelitik sehingga membuatku geli secara ide, tetapi juga menantang. “Mengajak orang untuk menulis?”
Penggembaraan ideku pun dimulai. Saya teringat pengalaman beberapa tahun lalu, ketika saya terbiasa untuk menulis segala pengalaman harianku secara bebas. Apa adanya. Melalui catatan harian itu, saya merasa tidak terpaku, terjerat dan mati lantaran tata aturan baku. Saya bebas. Sribo ergo sum.
Pengalaman menulis hal-hal sederhana ternyata menjadi habitual action. Bahkan melalui kebiasaan itu, saya mencoba mencipta dan mereka-reka tokoh imaginer yang bisa saya ajak berdialog. Pengalaman ini membuahkan sebuah tulisan singkat tentang Sekolah Kehidupan – refleksi harian. Sebuah kumpulan tulisan yang saya susun setelah berdiskusi dengan orang-orang di sekitarku; melihat, mengamati dan mengendapkan tingkah pola berbagai binatang (burung, cicak, lebah, semut, laba-laba, dst) yang ada di sekitar rumahku; dialogku dengan batu-batu di halaman depan rumahku yang gersang maupun dengan berbagai tanaman yang ada di halaman belakang rumahku.
Bagiku, ini menjadi proses penulisan yang sangat sederhana dan gampang.
Kurang lebih selama 2 tahun ini, saya mulai mengelola koran selembar. Saat ini, jumlah halaman koran itu menjadi 16 halaman. Ada satu bagian yang saya beri nama Ruang Anak. Rubrik ini, saya maksudkan untuk menampung pengalaman-pengalaman anak-anak yang ada di sekitar rumahku. Menurut beberapa tetangga, cara ini menjadi media ampuh untuk mendorong dan memotivasi anak mengungkapkan pengalaman harian mereka dalam bentuk tulisan. Bila tidak ada satu pun tulisan ana-anak yang dikirimkan kepadaku, saya hanya memuat sebuah gambar dan memberikan keterangan agar aanak-anak menceritakan gambar tersebut. Dengan cara itu, berbagai cerita pun mengalir ke tempatku. Selanjutnya, saya memberikan bingkisan (biasanya sebuah buku) kepada anak yang tulisannya dianggap paling menarik. Sebuah penghargaan atas ide dan proses kreatif mereka.
Menurutku, menulis adalah askese. Kegiatan yang menuntut si pelaku untuk seninggalkan kegiatan lainnya dan sejenak mengheningkan diri, masuk dalam kesendirian dan merangkai kata memaknai kalimatnya. Di dalam aktivitas-aktivitas itu, ada semacam perpindahan kesibukan: dari kesibukan menguja kesenangan raga ke kesibukan menguja kesenangan jiwa.
Terkait dengan motivasi, saya pernah berdecak kagum ketika membaca surat seorang teman yang berbicara tentang hal itu. Menurut temanku, ada berbagai rintangan dalam memotivasi diri. Rintangan tersebut adalah 1) faktor usia 2) keluarga atau orang terdekat 3) faktor lingkungan; waktu yang terbatas, faktor ekonomi antara lain kenaikan biaya hidup 4) diri sendiri tulisan.
Salah satu tantangan terberat adalah berurusan dengan diri sendiri … kisah ini mungkin menjadi tema-tema menarik. Saya jadi ingat tokoh Bima ketika mencari air kehidupan dalam kisah “Dewaruci” atau ketika Frodo dalam film trilogi “The Lord of The Rings” bergelut dengan gejolak batinnya untuk melemparkan cincin ke kawah Gunung Mordor. Apa motivasi mereka? Seberapa besar motivasi menjadi daya penggerak bagi keputusan penting mereka? Tentu saja ada nilai luhur yang terselip dalam motivasi keputusan mereka. Itulah pula yang memampukan diri mereka bukan hanya menjadi “pejuang dan pahlawan” bagi diri sendiri tetapi bagi banyak orang bahkan semesta ciptaan.
Saya cenderung setuju bahwa motivasi pribadi dapat mengubah kendala lainnya. Menurut saya, salah satu pesan terbaik dari motivasi adalah bahwa motivasi menjadi kekuatan yang menyebar. Bila saya termotivasi untuk melakukan sesuatu, dan motivasi itu akhirnya menghasilkan kepuasan, maka motivasi tersebut akan menular kepada orang-orang di sekitar saya, termasuk lingkungan di mana saya berada. Barangkali, kesadaran ini membawa saya untuk merumuskan bahwa motivasi (selain kenangan atau segala yang dinamis dan abadi) merupakan ciptaan Allah yang tidak bisa dimatikan.
Membaca pun menjadi kekuatan ampuh nan dahsyat dalam mendukung untuk menulis. Ibarat sebuah sumur, membaca menjadi mata air yang tak pernah kering. Berbagai tema pasti bisa menjadi bahan dalam penulisan. Tentu saja, selalu berusaha mencari tema bacaan yang sesuai dengan gagasan dan ide yang akan ditulis. ***
CB. Ismulyadi (C. IsmulCokro)
Karyawan dan penikmat buku (resensor, dll)
Judul buku yang telah ditulis: 1) 80 Kisah Dahsyat Penyegar Otak Kanan (2008). 2) Cara Cerdas Menghadapi Saat Pensiun – Pensiun Bukan Akhir Segalanya (2008), 3) Doa Bagi Anakku (2009), 4) Berani Berpikir Berindak Efektif (2009), 5) Perempuan Dengan Banyak Nama (2009), 6) Menggairahkan Pendidikan Berbasis Pengalaman (2009), 7) Memburu Binatang Kecil Di Hutan (Bekerjasama Dengan Sekolah International Sentul City, 2008)
Email: ismulcokro@yahoo.com Web: www.satuguru.com




Terimakasih atas artikel petunjuknya hanya saja terkadang niat menggebu dan mulai menulis walau baru untuk sendiri tapi terkadang ditengah jalan semua ide dan imaji suka macet . bagaimana cara mengatasinya makasih sebelumnya